Ada saja yang bisa dipelajari dari setiap kejadian. Kali ini saya belajar teknik marketing dari penjual buah.

Ceritanya, kemarin saya lagi ingin sekali makan duku (kalau di Bandung – bahasa Sunda – biasa disebut dukuh). Karena itu pulang kerja saya mampir dulu ke penjual buah di Jl. Jend Sudirman. Banyak yang berjualan buah di sana. Saya berhentikan motor di depan satu roda penjual buah, si penjual ada di belakang rodanya. Dia duduk saja di tempatnya dan tangannya menunjuk ke duku jualannya, mempersilakan saya untuk membelinya.

Saya: “Sabaraha sakilo, Mang?” (Berapa satu kilo, Mang?)
Penjual: “Sapuluh rebu.” (Sepuluh ribu.)
Saya: “Pasna sabaraha?” (Berapa pasnya?)
Penjual: “Sakitu wae..” (Segitu saja..)

Dia masih tetap duduk di tempatnya. Jawabannya pun kurang terdengar jelas karena dia duduk di belakang rodanya yang cukup jauh dari saya. Karena ingin dapat yang lebih murah, saya pun berlalu menjalankan motor mencari penjual lain yang dukunya kelihatan cukup menarik.

Beberapa ratus meter ke depan, saya berhenti lagi di satu roda, agak jauh dari penjual yang pertama supaya gak kelihatan :D Berbeda dengan penjual yang pertama, kali ini si penjual langsung menghampiri saya dan menawarkan dukunya. Kemudian sebelum saya sempat berkata apa-apa, dia mengambil satu buah duku, membukanya, dan memberikannya kepada saya untuk dicoba.

Saya: “Sabaraha sakilo, Mang?” (Berapa satu kilo, Mang?)
Penjual: “Sapuluh rebu.” (Sepuluh ribu.)
Saya: “Pasna sabaraha?” (Berapa pasnya?)
Penjual: “Sapuluh rebu atos pas..” (Sepuluh ribu sudah pas..)
Saya: “Kurangan deui ah!” (Kurangi lagi ah!)
Penjual: “Teu tiasa jang.. ieu mah dukuh Palembang asli.” (Gak bisa mas.. ini duku Palembang asli.)
Saya: “Ya geus sakilo weh Mang.” (Ya sudah satu kilo saja Mang.)

Saya pun langsung membeli satu kilo, pulang lalu malamnya menikmati duku Palembang yang manis-manis itu.

Kenapa saya langsung beli di penjual ini dan tidak cari lagi ke penjual lainnya? Padahal harganya sama dengan penjual yang pertama, padahal saya berharap dapat harga yang lebih murah. Karena pelayanan yang bagus. Saya juga dibuat tidak enak duluan karena belum apa-apa sudah diberi tester :) Budaya kita ini masih termasuk budaya “tidak enakan”, kan?

Nah, menurut saya teknik menjual yang digunakan si penjual buah ini bisa juga lho kita terapkan dalam bisnis. Di dunia internet marketing, sudah biasa kita temui istilah free trial, sama seperti tester yang diberikan penjual buah kepada saya. Pelayanan juga harus baik, kita harus bisa dekat dengan pelanggan, seperti penjual buah yang langsung mendekati saya begitu saya datang, berbeda dengan penjual buah yang duduk terus di tempatnya ketika saya datang. Tapi nempel pelanggan jangan berlebihan juga ya :mrgreen:

Terakhir, produk yang kita jual juga harus berkualitas, sesuai dengan harganya. Seperti penjual buah yang menjual duku kepada saya dengan harga Rp 10 ribu, dua kali lebih mahal dari pedagang duku di tempat lain, tapi dukunya memang duku Palembang asli yang manis rasanya. Sementara ada banyak pedagang duku di tempat lain yang menjual dengan harga Rp 5 ribu dan mengaku menjual duku Palembang, sama-sama memberi tester berupa duku yang manis, tapi setelah saya beli, ternyata duku yang saya bawa pulang tidak sesuai dengan testernya, dukunya banyak yang asam dan kecil-kecil seperti kelereng :angry:

Kalau sudah begini, saya pasti akan kembali beli duku di penjual buah di Jend Sudirman. Walaupun harga lebih mahal, tapi dapat kualitas dan pelayanan yang lebih baik :thumb4:

Category: Personal | Tags: