Apa yang akan Anda lakukan ketika mengendarai kendaraan, entah mobil, motor, atau bahkan sepeda ketika sebuah mobil angkot (angkutan kota) tiba-tiba berhenti di depan Anda sehingga Anda harus ikutan berhenti, dengan tujuan menurunkan atau menaikkan penumpang?
Biasanya yang saya lakukan adalah langsung membunyikan klakson terus menerus sampai si angkot jalan lagi. Dongkol sekali rasanya dan ingin marah-marah! Apalagi kalau si sopir angkot dengan santainya melambaikan tangannya menyuruh saya untuk maju mendahuluinya, padahal mobil terhalang dan tidak bisa maju gara-gara dia
Sekarang coba diubah ceritanya. Bagaimana kalau Anda sedang berada di dalam angkot yang berhenti itu, sebagai penumpang, dan mobil di belakang Anda membunyikan klakson dengan kencang dan tanpa henti? Saya pernah mengalami ini, dan saya kesal juga dan berpikir, “Sabar dikit dong! Ini angkot kan lagi nurunin penumpang!” Saya juga pernah lho diberi muka marah oleh penumpang di dalam angkot ketika saya mengklakson angkot itu.
Semua kejadian tergantung bagaimana cara kita memandangnya. Sesuatu yang menurut kita benar belum tentu benar buat orang lain, begitu juga sebaliknya. Kadang kita merasa dirugikan, padahal menurut orang lain mungkin hal itu adalah wajar, sama sekali tidak merugikan siapa pun.
Nah, kalau kita bisa memandang suatu kejadian dari sisi lain dan berusaha memahaminya, seharusnya perselisihan bisa dihindari. Dalam kasus di atas, sekarang saya berusaha untuk selalu memahami bahwa si sopir angkot sedang kejar target, dan karena kerjaannya memang begitu, percuma saya buang energi untuk kesal dan marah-marah sendiri karena saya sendiri yang rugi. Kemudian saya mengelus dada berusaha untuk tetap sabar dan mengontrol emosi
Tadi pagi ada yang telepon ke handphone saya, nomornya nomor Jakarta (021). Saya pikir ini kemungkinan ada yang nawarin kartu kredit lagi Tapi saya tetap jawab karena siapa tahu ada perusahaan besar yang mau menawarkan pekerjaan bergaji tinggi pada saya
Begitu saya bilang “Halo” dia langsung menanyakan apakah bisa berbicara dengan Ibu X. Ibu X ini adalah saudara saya. Saya jadi bingung, koq cari saudara saya telepon ke saya ya? Ternyata, dia adalah dari perusahaan konsultan dari sebuah perusahaan asuransi besar yang sedang mengadakan survey kepuasan pelanggan. Kebetulan masalah asuransi saudara saya itu memang saya yang urus.
Karena salah nomor, saya bilang saja bahwa saya memang saudaranya. Lalu dia menanyakan banyak hal tentang kepuasan saudara saya akan perusahaan yang sedang diwakilinya itu. Karena saya tahu, jadi bisa saya jawab. Di akhir pembicaraan dia menanyakan nomor telepon saudara saya itu. Saya tidak berikan dengan alasan Ibu X itu orang sibuk, tidak bisa sembarangan orang meneleponnya, kalau dia merasa terganggu, bisa-bisa dia tidak mau lagi asuransi di perusahaan ini.
Jujur, saya pribadi merasa sangat terganggu dengan survey kepuasan konsumen melalui telepon semacam ini. Karena alasan inilah saya tidak berikan nomor telepon saudara saya itu, karena saya yakin dia pun pasti terganggu. Apalagi tadi saya sedang kerja, ditanya ini itu yang mungkin penting buat mereka, tapi sama sekali tidak penting buat saya. Dia pun di awal hanya mengatakan “Maaf mengganggu” tanpa menanyakan dulu apakah saya sedang sibuk atau tidak. Bukankah akan lebih baik kalau dia menanyakan apakah waktunya kurang tepat, apakah bisa menghubungi lagi nanti siang dsb?
Karena itu saya tidak setuju dengan survey via telepon. Lagipula, bukankah survey via telepon biayanya lebih mahal? Nelepon ke handphone pula, sampai 10 menit lebih pasti mahal deh Menurut saya akan lebih baik bila survey semacam itu dilakukan via:
Email
Cari data klien yang memiliki email, lalu kirim email pada mereka dimana dalam email itu ada link menuju ke halaman website yang berisi surveynya. Biaya yang tadinya dipakai untuk menelepon bisa dipakai untuk memberikan cindera mata / souvenir kepada klien yang telah mengikuti survey dan beruntung. Saya senang mengikuti survey singkat yang ada cindera matanya.
Kelemahannya, sampai sekarang memang banyak klien yang tidak mencantumkan alamat email mereka, entah karena belum punya atau enggan. Tapi kalau nomor telepon mereka pasti cantumkan karena memang sudah menajdi hal yang wajib dicantumkan. Kemudian masih banyak juga klien yang “gaptek” yang belum bisa buka email Tapi kelemahan ini menurut saya bisa teratasi dalam waktu singkat dengan semakin pentingnya seseorang memiliki alamat email sekarang ini.
SMS
Survey singkat juga bisa via SMS. Ini tidak terlalu mengganggu, dan kalau mengganggu pun klien tinggal mengabaikan SMS itu. Beda halnya dengan telepon yang jelas-jelas lebih mengganggu dan agak sulit untuk klien menghentikan orang yang berbicara tanpa henti di ujung sana Biaya untuk SMS juga jauh lebih kecil dibandingkan dengan menelepon.
Surat
Perusahaan bisa mengirimkan survey via surat kepada klien dan meminta klien untuk mengirimkannya kembali via pos (tentu disertai perangko berlangganan supaya klien tidak perlu membeli perangko) atau via fax atau bahkan via email.
Memang dengan ketiga cara di atas, respons yang diharapkan mungkin kurang sesuai, berbeda dengan telepon yang langsung kena sasaran. Tapi sekali lagi, demi tidak mengganggu dan lebih menghargai klien, menurut saya lebih baik survey tidak dilakukan via telepon.
Dulu, saya sering merasa heran akan banyak hal yang tidak mau dilakukan oleh anak saya, Nicole. Tapi seiring berjalannya waktu, semakin dia besar, dia mau melakukannya.
Contoh, dulu dia tidak mau berenang, masuk kolam renang langsung menangis sekuat-kuatnya. Sementara saya lihat anak-anak lain seumur dia senang sekali berenang dan bermain air. Tapi sekarang, dia sangat senang berenang, malahan jadi sering ngajak berenang
Dulu dia lebih sering diam saja ketika diajak ngobrol oleh orang lain, padahal di rumah cerewetnya bukan main. Sekarang dia sudah mau diajak ngobrol oleh orang yang belum dia kenal sekalipun.
Dari sini kita dapat belajar bahwa segala sesuatu memang ada waktunya. Ada waktunya kita bisa punya rumah sendiri, usaha sendiri, mobil sendiri dan lainnya. Memang, apa yang dialami anak-anak sehingga mereka bisa melakukan sesuatu adalah hal yang natural, alami, yang pasti akan terjadi dengan sendirinya. Sedangkan kalau masalah lain, misalnya kesuksesan, kan tidak akan terjadi dengan sendirinya? Kapan dong waktunya tiba?
Nah, kalau Anda merasa sama seperti saya yang belum sukses di dunia internet marketing, berarti kita memang belum waktunya sukses di bidang ini. Mungkin kita kurang fokus, kurang pengalaman, dan masih harus lebih banyak belajar lagi.
Maka dari itu tetap semangat dan berusaha untuk mencapai tujuan Anda! Siapa tahu, tinggal selangkah lagi adalah waktunya Anda mencapai tujuan Anda. Kalau sekarang berhenti, maka langkah terakhir itu tidak dilakukan, akibatnya tujuan tidak akan tercapai.
Ketika blogwalking, saya sering menemukan blogger yang mengungkapkan kebuntuan ide dalam blogging. Tidak tahu apa yang harus ditulis. Anda pernah mengalaminya, atau bahkan sering? Saya juga pernah mengalaminya.
Tapi saya yakin, sebenarnya ide blogging itu tidak terbatas. Yang membatasinya hanyalah pikiran kita saja. Kalau Anda berpikir bahwa sedang tidak punya ide, maka ide itu tidak akan / sulit datang. Tapi kalau Anda berkeyakinan bahwa ide blogging itu tidak pernah habis, maka kepala Anda akan penuh dengan ide-ide blogging.
Kepada para blogger yang sedang tidak punya ide, biasanya saya menyarankan di kolom komentar untuk mencari ide berdasarkan pengalaman sehari-hari. Setiap hari kita pasti melakukan sesuatu, dan salah satunya pasti bisa dijadikan bahan untuk menulis di blog. Misalnya:
Seharian nonton tv di rumah atau pergi nonton film ke bioskop, bisa menulis tentang film yang ditonton.
Seharian online di rumah, bisa menulis tentang website baru yang dikunjungi.
Di kantor ada kejadian atau pembicaraan dengan teman kantor yang menarik, bisa ditulis di blog.
Di jalan Anda melihat papan reklame dengan slogan yang tidak biasa, bisa Anda bahas.
Jalan-jalan ke mall dan ketemu artis sinetron, bisa Anda tulis seperti apa artis itu di luar layar kaca.
Teman Anda beli handphone baru, dan Anda coba-coba, bisa Anda tulis review handphone itu.
dan lain-lain yang tidak terbatas!
Beberapa contoh postingan saya berdasarakan pengalaman sehari-hari bisa dilihat di sini.
Tentu, ide-ide dari kehidupan sehari-hari itu agak sulit diterapkan pada blog dengan niche khusus, seperti blog tentang kesehatan atau blog SEO. Tapi untuk blog-blog personal, umum atau gado-gado seperti blog ini, ide-ide itu bisa diterapkan.
Saran lagi, bawa catatan ke mana pun Anda pergi. Ide bisa datang kapan saja di mana saja. Kalau tidak dicatat kita sering lupa. Saya dulu sering berpikir keras untuk menemukan ide yang hilang, sempat kepikiran sebuah ide untuk diposting, tapi kemudian lupa. Karena itu sekarang saya selalu mencatat begitu menemukan ide. Kalau repot bawa catatan, bisa dicatat di handphone.
So, ide buat ngeblog itu tidak terbatas, ayo makin rajin blogging!
Ketika Anda menemukan seseorang mempromosikan produk yang menarik perhatian Anda, dengan menggunakan link referral / affiliate, apa yang akan Anda lakukan? Misalnya link adalah http://www.namaprogramyangmenarik.com/?id=123. Apakah Anda akan:
Langsung klik link itu lalu ikutan daftar, sehingga jadi referral orang itu?
Atau Anda copy link-nya, hapus ?id=123 nya, lalu browsing ke http://www.namaprogramyangmenarik.com/ dan ikutan program itu?
Saya tahu banyak orang yang melakukan hal yang ke-2. Saya sendiri kalau tahu suatu program dari seseorang, dan ada link referralnya, dengan senang hati saya akan menjadi referral orang itu. Buat saya pribadi sih, sebagai tanda terima kasih karena sudah membuat saya tahu akan adanya program itu. Kalau tidak ada dia, mungkin saya tidak akan tahu keberadaan program itu, kan?
Apa salahnya sih jadi referral? Tidak ada salahnya kan memberikan (sedikit) keuntungan kepada orang yang telah memberikan informasi kepada Anda?
NB: Postingan ini sama sekali tidak mengajak Anda untuk menjadi referral saya, cuma berbagi opini saja koq
Menurut Anda, ketika akan ada teman / rekan kerja yang akan pergi, entah keluar kerja atau pindah cabang, kapan sih waktu yang paling tepat untuk mengadakan acara / pesta perpisahan? Sebelum dia pergi, hari terakhir kerja, atau malah sesudahnya?
Kemarin saya ada acara perpisahan dengan rekan kerja yang akan dimutasi, pindah cabang. Lucunya (buat saya), dia baru akan meninggalkan kami kurang lebih 2 minggu lagi. Karena dia perempuan, rekan-rekan kerja lainnya yang juga perempuan sudah pakai acara menangis-nangis segala. Aneh rasanya, setelah bersedih-sedih dan menangis-nangis, eh.. besok masih ketemu lagi selama 2 minggu. Nanti pas hari terakhir kerja pasti deh pakai acara menangis-nangis lagi
Kalau menurut saya pribadi sih acara perpisahan seperti itu lebih baik dilakukan di hari terakhir atau hari dimana dia tidak akan bertemu kita lagi (untuk waktu yang cukup lama). Setuju gak?
Beberapa tahun belakangan, bank-bank berlomba-lomba mengucurkan kredit konsumen, salah satu yang paling gencar adalah kartu kredit. Karena itu, membuat kartu kredit menjadi jauh lebih mudah daripada sebelumnya.
Selain kemudahan membuat kartu kredit, promosi gencar pun dilakukan oleh bank-bank penerbit kartu, seperti gratis iuran tahun pertama, fasilitas cicilan dengan bunga ringan, dan banyak sekali diskon menarik di toko, restoran dan merchant lainnya.
Saking mudahnya membuat kartu kredit, dan dengan iming-iming berbagai keuntungan memiliki kartu kredit itu, saya pun jarang menolak bila ada yang menawarkan untuk membuat kartu kredit, dan parahnya, aplikasi saya selalu disetujui. Lho, disetuju koq parah? Hehe.. baca terus deh
Akhirnya saya punya cukup banyak kartu kredit. Di sini sedikit-sedikit masalah mulai masuk. Memasuki tahun ke-2, saya harus membayar iuran tahuan. Beberapa bank mengabulkan permohonan saya untuk pembebasan iuran tahunan itu, dengan catatan, kartu tidak boleh ditutup! Kalau kartu mau ditutup, iuran tahunannya jadi harus dibayar. Wah, harus jadi pemegang kartu itu selamanya dong kalau tidak mau dikenakan iuran? Betul! Itu pun kalau permohonan pembebasan iuran saya disetujui, karena tidak semua bank memberikan pembebasan iuran tahunan begitu saja, ada beberapa bank yang mengajukan syarat untuk pembebasan iuran tahunan, misalnya saya harus melakukan pembelanjaan dalam jumlah tertentu (yang cukup besar) dalam 3 bulan ke depan
Masalah berikutnya adalah bunga. Karena belanja menjadi sangat mudah, tinggal gesek kartu saja, pembelanjaan jadi kurang terkontrol. Segala ingin dibeli dengan pemikiran bayar saja dulu dengan kartu kredit, toh bayarnya bulan depan, bisa dicicil lagi, atau kalau lagi gak ada uang, bayar saja dulu pembayaran minimalnya (biasanya 10% dari total tagihan bulanan). Jadinya kena bunga deh Dan bunga kartu kredit itu ajaib Jangan pikir menghitung bunga kartu kredit itu seperti menghitung bunga bank ya Mau tahu cara menghitung bunga kartu kredit? Lihat saja buku petunjuk kartu kredit Anda, atau cari di Google.. kemungkinan bakalan bikin kening berkerut deh
Memang kesalahan murni ada di pihak saya, karena tidak mengontrol diri sendiri ketika berbelanja pakai kartu kredit. Tapi saya yakin banyak sekali orang yang mengalami seperti yang saya alami, berbelanja berlebihan. Lagipula, bukankah salah satu tujuan bank menerbitkan kartu kredit adalah demi mendapatkan keuntungan dari bunga? Maka dari itulah segala kemudahan kartu kredit dibuat. Saking mudahnya, banyak orang tanpa sadar terjerumus ke dalam hutang kartu kredit. Dan sekali lagi, pihak bank tidak salah sama sekali. Kan kita sendiri yang berbelanja, bank hanya memberikan fasilitas kreditnya.
Menurut saya, inilah bahayanya kredit konsumtif. Dan kartu kredit termasuk ke dalam kategori kredit konsumtif.
Satu per satu saya lunasi tagihan kartu kredit saya. Sekarang saya hanya punya 1 buah kartu kredit, yang bisa dipakai untuk transaksi online. Sisanya saya tutup semua. Kalau belanja sekarang saya bawa tunai atau pakai kartu debit. Ada duit beli, duit masih kurang ya nabung dulu, gak usah dipaksakan.
Memang, kadang ada perasaan sayang ketika masuk toko yang menawarkan diskon dengan kartu kredit tertentu, sedangkan saya sudah tidak punya lagi kartu kredit itu. Tapi kalau dipikir-pikir, diskon itu belum tentu seberapa lho. Kalau saya menggunakan kartu kredit, dan diskon yang saya dapatkan lebih besar dari iuran tahunan kartu kredit, mungkin masih ok lah, tapi kalau lebih kecil? Misalnya iuran tahunan kartu kredit adalah Rp 200 ribu, dan dalam 1 tahun saya hanya pakai kartu itu beberapa kali saja dan mendapatkan diskon total hanya Rp 50 saja, kan rugi Rp 150 ribu..
Kartu kredit memang punya nilai positif yang tidak dapat disepelekan, tapi juga ada negatifnya. Kebetulan bagi saya punya banyak kartu kredit itu lebih banyak negatifnya. Karena itu buat saya 1 kartu kredit saja sudah cukup, itu pun jarang dibawa, disimpan di rumah dan akan digunakan kalau emergency saja, dan untuk transaksi di internet.
Akhir kata, dengarkanlah apa yang dikatakan oleh Suze Orman, penasehat keuangan Oprah Winfrey:
Kalau Anda akan membeli sebuah barang menggunakan kartu kredit, dan Anda hanya mampu membayar tagihan minimum bulanan, berarti Anda tidak mampu membelinya.
Tiga hari belakangan ini, di rumah saya berkeliaran beberapa ekor tikus. Dan ada 1 “master” nya yang genduuutt sekali! Yang lainnya ukurannya sedang-sedang saja. Tampaknya tikus-tikus ini masuk dari luar ke dalam rumah.
Biasanya tikus takut dengan manusia kan? Tapi tikus-tikus ini tidak. Mereka dengan seenaknya berlarian walaupun ada orang di depannya. Jadinya kita yang takut sama tikus Saya benci sekali tikus. Mereka naik-naik ke meja, meninggalkan jejak-jejak kaki yang menjijikkan.
Tidak tahan lagi dengan keberadaan tikus-tikus yang mengganggu kehidupan ini, saya lalu beli lem tikus cap gajah di supermarket. Lem tikus ini sudah siap pakai, tinggal dibuka, diberi umpan di atasnya, disimpan, dan menunggu tikus kena lem sehingga tidak bisa kabur lagi. Istri saya pasang 2 lem tikus itu di 2 lokasi yang sering dilewati mereka. Hahaha.. hati ini senang membayangkan para tikus itu terjebak di atas lem. Hmm… jahat juga ya saya?
Tidak lama setelah lem tikus dipasang, istri saya datang dan bilang bahwa di salah satu lem yang dipasang, tikusnya tidak kena tapi umpannya hilang! Wah, saya pikir, apakah tikus sekarang sudah pintar sehingga dia bisa tahu bahwa itu adalah perangkap buat dia? Kami coba sekali lagi pasang umpan berupa daging ayam. Esok paginya, ternyata umpan itu hilang lagi! Ah.. masa sih tikus bisa tahu bahwa itu perangkap? Rasanya gak mungkin ya? Saya perhatikan, ternyata di atas lem tikus itu terdapat tapak-tapak kaki tikus! Ini artinya si tikus sudah menginjak lem, makan ayam, dan keluar lagi. Ternyata lemnya kurang kuat!
Saya lihat di lem yang satu lagi, aha! Di sini tikusnya kena dan tidak bisa kabur Tapi ini tikus yang lebih kecil. Jadi, rupanya si “master” tikus yang berhasil mengambil umpan dengan selamat tanpa terjebak lem. Mungkin karena dia besar sekali dan tenaganya kuat sehingga dapat dengan mudah berjalan-jalan di atas lem tikus ya? Padahal gambar di lem tikusnya, gajah saja tidak bisa lepas
Dulu saya juga pernah coba pakai racun tikus, yang katanya setelah tikusnya makan racun itu, dia akan mengalami gangguan penglihatan, lalu akan mencari tempat terang dan mati, sehingga bangkainya akan mudah ditemukan. Tapi walaupun wadah racunnya sudah berantakan, yang artinya si tikus sudah makan racunnya, tapi tidak mati juga. Atau jangan-jangan mereka matinya di luar rumah ya?
Teman-teman punya pengalaman atau saran supaya rumah bebas dari tikus?
Judul postingan ini berlebihan gak? Menurut saya ini memang berlebihan. Dan yang bikin tambah berlebihan, 500 juta rupiah per bulan di sini bukan pendapatan, melainkan pengeluaran! Dan yang bikin semakin berlebihan, pengeluaran 500 juta rupiah per bulan ini adalah pengeluaran pribadi, bukan pengeluaran perusahaan
Seorang kerabat saya minggu lalu ikutan sebuah seminar tentang bisnis. Jujur saya kurang menyimak apa yang dia ceritakan. Tapi saya menangkap 1 hal, bahwa sang pembicara yang juga seorang pebisnis, mengatakan bahwa pengeluaran (entah pengeluaran dia pribadi atau orang lain) mencapai 500 juta rupiah per bulan. Kebayang kan, kalau pengeluaran per bulan 500 juta, berapa penghasilannya?
Menurut saya ini berlebihan, sangat berlebihan bahkan. Ya memang mungkin saja ada orang yang pengeluaran per bulannya sebesar itu. Tapi gak perlu disebutkan dengan bangga lah.. Ini sama namanya seperti menjual mimpi.
Saya jadi bertanya-tanya, apakah seminar-seminar bisnis dan motivasi yang ada sekarang ini mirip dengan ebook-ebook sampah yang menjual mimpi, yang menjanjikan rahasia dan cara cepat kaya? Kalau sang kerabat mengajak saya untuk ikutan seminar yang sama, pasti langsung saya tolak karena saya kan sering tidur di seminar
Adakah cara cepat menjadi kaya raya? Adakah rahasia menjadi kaya secara instan? Jawabannya, ada! Tapi ilegal, seperti jualan narkoba, merampok, dll. Ah, jangan yang ilegal, yang legal dan aman-aman aja deh.. ada? Ada! Menikahlah dengan orang kaya raya Tapi ngedeketin orang kaya juga butuh usaha banyak dan waktu, gimana dong? Wake up, man! Bangun! Sadar! Jangan mau enak doang! Usaha dong!
Cepat itu berapa lama?
Buat saya, menjadi kaya dalam waktu 5 tahun adalah waktu yang cepat, sementara bagi orang lain mungkin itu terlalu lama.
Kuncinya adalah Belajar dan Usaha
Seberapa cepat anda menjadi kaya tergantung dari seberapa cepat anda belajar. Seperti seorang salesman, seberapa cepat ia belajar mengenai produk yang dijualnya, cara presentasi, cara mengatasi keberatan klien, cara mengatasi rasa takut ditolak dan lain sebagainya, kemudian mempraktekkan ilmunya menentukan seberapa cepat ia sukses. Kalau ia malas belajar, malas ikut pelatihan sales, akan semakin lama ia belajar sehingga ia tidak akan praktek, dan semakin lama ia (kalau tidak akan) kaya.
Begitu juga dengan internet marketing. Seberapa cepat anda belajar internet marketing menentukan seberapa cepat anda berhasil di dunia ini. Belajar yang saya katakan di sini bukan hanya belajar teori lho, tapi juga belajar dari pengalaman, terutama pengalaman gagal. Kalau beberapa kali gagal anda menyerah, ya selamanya tidak akan pernah berhasil. Anda pasti tahu cerita-cerita orang-orang sukses yang berkali-kali gagal, tapi pantang menyerah, dan akhirnya berhasil.
Robert Kiyosaki mengatakan bahwa uang tidak menjadikan kita kaya. Kalau dengan ukuran uang, punya uang Rp 500 juta mungkin sudah membuat saya merasa kaya raya, sedangkan menurut orang lain punya uang segitu belum bisa dibilang kaya. Proses belajarlah yang menjadikan kita kaya. Dengan belajar, kita punya ilmu, dan ilmu itu bisa membuat kita kaya.
Kenapa banyak orang miskin yang kaya mendadak karena menang undian tidak dapat mempertahankan kekayaannya, kemudian dalam waktu singkat jatuh miskin kembali? Karena mereka tidak melalui proses pembelajaran dalam mendapatkan kekayaan itu.
Akhir kata, tidak ada yang namanya kaya mendadak (kecuali seperti yang sudah disebutkan di atas). Semuanya perlu proses belajar, dan memakan waktu. Kalau anda tergiur dengan para penjual mimpi di internet yang menawarkan rahasia dan cara cepat kaya dari internet atau cara gampang mendapatkan uang dari internet, pikirkanlah lagi dan lagi. Kalau dikatakan, “Saya menghasilkan Rp 10 juta dalam 10 hari.” Apakah 10 hari selanjutnya dia masih menghasilkan Rp 10 juta lagi, atau cuma satu kali itu saja dan dia sudah berani buat ebook?
Daripada buang-buang duit beli ebook yang pengarangnya gak jelas, dengan screenshot bukti penghasilan yang gampang dimodifikasi, mendingan beli buku yang pengarangnya sudah terbukti beneran orang kaya yang kompeten, yang tidak mengajarkan cara kaya instan melainkan mengajarkan konsep cara menjadi kaya, seperti buku-buku karangan Napoleon Hill, Robert Kiyoaski, Donald Trump dll.
Recent Comments