Kolesterol Normal Untuk Jantung dan Hidup Sehat

Turunkan Kolesterol Temukan Cara Bagaimana Saya Menurunkan Kadar Kolesterol Sebanyak 231 Poin dari 374 Menjadi 143 Dalam Waktu 2 Bulan.

Turunkan Kolesterol!
Bisnis Internet Pertama

Affiliate Site Blueprint Home Study Course

Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar melalui Affiliate Marketing

Hasilkan Income Ratusan Hingga Ribuan Dollar Per Bulan dari Real Internet Business yang Bisa Dikerjakan Secara Part-Time dan Bisa Dilakukan Dari Manapun. Klik di sini!

Opini Archives

Mau Join Wazzub?

Belakangan ini saya sering melihat banyak yang menyebut-nyebut tentang Wazzub, terutama di Facebook. Saat melihatnya, saya sama sekali tidak tertarik dan tidak pernah meng-klik link yang ada. Sampai tadi malam ada seorang teman yang nge-bbm, mempromosikan Wazzub ini.

Disebutkan bahwa ini adalah program profit sharing, dan membayar membernya cukup hanya dengan join saja. Join-nya pun gratis! Tapi kemudian ada embel-embelnya, walaupun tidak perlu ada aktifitas jual-beli, member harus menyebarkan “berita baik” ini, yang ujung-ujungnya cari downline dengan menggunakan refferal link. Angka yang ditampilkan cukup fantastis.

Disebutkan pula bahwa perusahaan ini adalah perusahaan baru yang punya cita-cita menandingi Google dan Facebook. Hmm.. saya jadi penasaran, lalu saya buka situsnya. Tapi setelah melihat-lihat sebentar, saya memutuskan tidak mau daftar walaupun 100% gratis. Kenapa? Saya baru melihat sebentar dan langsung menemukan 3 hal yang membuat saya tidak mau join.

Pertama, domain yang digunakan adalah domain .info. Bukannya mengecilkan atau menyepelekan domain dengan extension .info, tapi tidak pantas menurut saya sebagai perusahaan yang mau menandingin Google dan Facebook menggunakan domain .info.

Kedua, di bagian atas websitenya ada link ke blog-nya. Saya lihat link itu nge-link ke blogspot. Kenapa tidak buat blog di domain sendiri saja? Mungkin mau menyaingi Google yang ngeblog di blgospot ya? Tapi.. blogspot kan punya Google, jadi wajar toh kalau Google ngeblog di blogspot? :)

Ketiga, tampilan website yang kurang pas di hati. Rasanya tidak profesional.

Saya cari di Google, banyak website yang mengulas Wazzub ini dari berbagai sisi lain dan menyimpulkan bahwa Wazzub adalah scam. Tapi buat saya, cukup 3 hal tadi saja sudah membuat saya tidak percaya dengan program ini, dan memutuskan untuk tidak bergabung. Saya tidak percaya dengan program cari duit di internet yang too good to be true, yang menjanjikan cara cepat kaya, dan yang menjual mimpi.

Bagaimana kalau nanti ternyata Wazzub ini bukan scam dan teman-teman saya yang join jadi orang kaya? Ya.. palingan saya cukup gigit jari saja :tongue2:

Naik Satu Lantai Pakai Tangga Saja

Tadi pagi saya naik lift dari lantai dasar sebuah gedung berlantai 6. Saya menuju ke lantai 4, jadi wajar dong kalau saya naik lift, capek kalau naik tangga :grin1: Kebetulan yang antri lift cukup banyak, dan saya orang terakhir yang masuk ke dalam lift, sehingga posisi saya ada di paling depan dekat pintu lift. Kondisi di dalam lift sudah cukup berdesakan. Tombol-tombol di lift yang sudah ditekan adalah tombol untuk lantai 4, 5,dan 6.

Lift pun naik 1 lantai, lalu berhenti, dan pintunya terbuka. Ada beberapa orang di lantai 1 itu yang sedang menunggu lift. Melihat lift cukup penuh, mereka tidak jadi naik lift. Tapi tiba-tiba ada seorang bapak masuk, dengan agak memaksa, sehingga lift makin berdesakan. Untung pintu lift nya masih bisa menutup dan bel tanda kepenuhan tidak berbunyi :D Lalu si bapak itu menekan tombol lift.. lantai 2

Duh.. saya pikir, kalau hanya naik satu lantai saja kenapa harus berdesakan begini? Naik tangga aja kenapa sih? Kan sehat sekalian olah raga. Dasar pemalasan! Hehehe.. Lalu saya pikir, kita memang makin malas ya, sekarang ini terlalu mengandalkan teknologi yang memang membuat hidup makin mudah. Dengan adanya lift dan eskalator, kita tidak perlu lagi terengah-engah, ngos-ngosan dan berkeringat naik tangga. Tapi tetap, kalau hanya naik 1 lantai saya masih lebih memilih naik tangga lho :mrgreen:

Bagaimana dengan Anda?

Mustahil Berantas Pornografi

Berantas pornografi! Kata-kata itu sering sekali kita dengar, dan belakangan ini juga sedang hangat-hangatnya lantaran ultimatum Menteri Kominfo Tifatul Sembiring kepada RIM selaku produsen BlackBerry.

Kalau menurut saya, walaupun bisa, amat teramat sangat sulit sekali memberantas pornografi, selama masih ada pihak yang memproduksi konten porno dan ada demand (permintaan) untuk itu. Sama seperti memberantas prostitusi, yang katanya merupakan salah satu profesi tertua di dunia, sangatlah sulit dilakukan, karena masih ada dan akan selalu ada demand untuk itu, Satu tempat prostitusi ditutup, pasti akan buka di tempat lain, begitu seterusnya seperti lingkaran setan yang tidak akan pernah ada habisnya :turtle:

Demikian juga dengan pornografi, kalau layanan BlackBerry ditutup, konten porno masih dapat dengan mudah didapat dari internet, DVD, VCD, majalah dan lain-lain. Kalau semua media itu diberantas, bisa-bisa negara ini terisolasi dari dunia luar kembali ke jaman batu :(

Pemblokiran situs porno juga bukan solusi yang jitu. Manusia itu semakin dilarang semakin mencari. Kalau sebuat situs diblokir, pasti ada cara untuk bisa melewati pemblokiran dan mengakses situs tersebut. Kalaupun pemblokiran situs tidak dapat ditembus, setiap hari bisa saja muncul situs-situs porno baru. Yang kasihan adalah orang yang bertugas memblokir situs-situs porno, setiap hari dia melihat banyak situs porno untuk menambahkannya ke daftar situs yang diblokir :laughloud:

Jadi yang bisa dilakukan untuk memberantas pornografi adalah dengan memberantas semua produsen konten pornografi. Namun hal ini jelas tidak mungkin dilakukan, apalagi di negara-negara yang melegalkan pornografi.

Alternatif lain adalah dengan pendekatan kepada individunya, melalui pendidikan. Didiklah mental dan moral bangsa ini supaya membenci pornografi. Mereka yang lantang menyerukan pemberantasan dan anti pornografi pastilah sangat membenci pornografi, dan setiap melihat sedikit saja konten porno bisa langsung menutup mata dan berhenti melihat konten porno tersebut. Nah, didiklah bangsa ini supaya membenci pornografi seperti mereka, pastilah masalah pornografi ini bisa teratasi dengan lebih baik tanpa harus melakukan pembatasan-pembatasan pada media informasi.

Sulit? Sangat.. Bisakah dilakukan? Harusnya bisa.. Bagaimana caranya? Jangan tanya saya, saya juga tidak tahu :noidea: Tanya saja pada para ahli pendidikan :grin2:

Semua Staff Butuh Keahlian Marketing

Setiap staff / personel dalam sebuah perusahaan, menurut saya, butuh keahlian marketing, walaupun sedikit, untuk mempertahankan konsumen yang telah susah payah didapat oleh staff marketing perusahaan tersebut. Jangan sampai hasil kerja keras staff marketing untuk mendapatkan konsumen hilang begitu saja karena ulah staff bagian lain.

Contohnya, sebulanan yang lalu saya pindah rumah, dan karena di rumah baru belum ada line telepon, saya tidak bisa pasang Speedy. Mau pakai ISP lain yang berbasis kabel, harganya di Bandung masih kemahalan. Cari alternatif lain, pakai layanan dari operator GSM seperti Telkomsel Flash, ketentuan layanannya kurang memuaskan buat saya. Lalu saya coba produk dari Smart dan AHA, lumayan bagus tapi ada masalah baru yaitu IP addressnya dipakai beramai-ramai sehingga saya tidak bisa login ke beberapa website.

Kemudian saya menemukan sebuah ISP yang menggunakan metode Wifi, akses unlimited tanpa kuota, IP nya tidak dipakai beramai-ramai, dengan harga cukup terjangkau, walaupun speednya hanya 128kbps. Cukup lah buat browsing-browsing dan ngeblog. Kalau buat download masih sangat jauh dari harapan.

Singkat cerita, saya pun pasang layanan dari ISP ini. Entah kenapa, mungkin karena di daerah saya banyak yang pakai jaringan wireless juga, koneksi di rumah saya sering terganggu. Nah, kalau terganggu otomatis saya langsung kontak support-nya dong, minta dicek dan diperbaiki. Waktu itu karena hampir tiap hari gangguan, saya kesel juga, lalu saya tanya sama si support via YM kenapa bisa begini, dan jawabannya sungguh mengecewakan. Dia bilang, “Ya wifi memang begitu pak, banyak interferensi. Kalau bapak tidak puas, ya sudah terserah bapak saja.”

Duh! Saya lagi kesal karena koneksi yang jelek, ditambah omongan support yang kaya gitu, tambah kesel deh :( Maksudnya terserah saya itu apa? Ini orang apa nyuruh saya berhenti berlangganan ya? Saya tidak jawab lagi si support itu, saya matikan komputer, tidur dan besoknya saya hubungi marketing ISP itu, yang selama ini melayani saya dengan sangat baik. Saya katakan bahwa saya mau berhenti berlangganan dan minta uang deposit perangkat saya kembali, lalu saya ceritakan tentang omongan si staff support itu.

Dia meminta maaf atas perkataan temannya, dan menawarkan supaya teknisi datang ke rumah lagi untuk mengecek perangkat, siapa tahu perangkatnya bermasalah. Karena si marketing ini baik, saya pun menerima tawarannya :D

Nah, dari pengalaman saya ini, saya sadar bahwa setiap personel dalam sebuah perusahaan butuh pengetahuan marketing, supaya bisa mempertahankan konsumennya. Tidak hanya staff support lho, lihat saja di bank sekarang ini satpam, bahkan sampai petugas cleaning service pun begitu ramahnya terhadap setiap nasabah, tidak peduli nasabah itu berpenampilan dan berpakaian bagus atau biasa-biasa saja atau bahkan lusuh. Setiap staff bahkan yang pekerjaannya tidak berhubungan dengan konsumen pun suatu saat tanpa sengaja bisa bertemu dan berinteraksi dengan konsumen.

Konsumen sulit dicari tapi gampang lepas. Jadi harus dijaga baik-baik ya! :thumb1:

Perempuan Juga Harus Kuat

Ketika mengantar anak ke dokter beberapa waktu lalu, ada seorang anak laki-laki yang menangis, kemudian oleh Bapaknya dibilang, “Ayo gak boleh nangis, anak laki-laki harus kuat!”

Saya kurang sependapat dengan Bapak ini, dan mungkin juga dengan budaya di negara kita (dan mungkin juga negara lain?) yang menyatakan bahwa laki-laki tidak boleh menangis. Kalau tidak boleh cengeng, saya setuju. Tapi kalau laki-laki tidak boleh menangis, saya sangat tidak setuju. Laki-laki juga manusia yang punya perasaan, dan kadang manusia mengungkapkan perasaannya dengan menangis. So, tidak ada salahnya laki-laki juga menangis, kan?

Kembali ke Bapak tadi yang mengatakan bahwa laki-laki harus kuat, menurut saya perempuan juga harus kuat. Kuat dalam menghadapi segala hal persoalan hidup. Jadi laki-laki dan perempuan adalah sederajat dan sama, keduanya harus kuat, dan keduanya boleh menangis.. :D Setuju?

Sudut Pandang

Apa yang akan Anda lakukan ketika mengendarai kendaraan, entah mobil, motor, atau bahkan sepeda ketika sebuah mobil angkot (angkutan kota) tiba-tiba berhenti di depan Anda sehingga Anda harus ikutan berhenti, dengan tujuan menurunkan atau menaikkan penumpang?

Biasanya yang saya lakukan adalah langsung membunyikan klakson terus menerus sampai si angkot jalan lagi. Dongkol sekali rasanya dan ingin marah-marah! Apalagi kalau si sopir angkot dengan santainya melambaikan tangannya menyuruh saya untuk maju mendahuluinya, padahal mobil terhalang dan tidak bisa maju gara-gara dia :angry:

Sekarang coba diubah ceritanya. Bagaimana kalau Anda sedang berada di dalam angkot yang berhenti itu, sebagai penumpang, dan mobil di belakang Anda membunyikan klakson dengan kencang dan tanpa henti? Saya pernah mengalami ini, dan saya kesal juga dan berpikir, “Sabar dikit dong! Ini angkot kan lagi nurunin penumpang!” Saya juga pernah lho diberi muka marah oleh penumpang di dalam angkot ketika saya mengklakson angkot itu.

Semua kejadian tergantung bagaimana cara kita memandangnya. Sesuatu yang menurut kita benar belum tentu benar buat orang lain, begitu juga sebaliknya. Kadang kita merasa dirugikan, padahal menurut orang lain mungkin hal itu adalah wajar, sama sekali tidak merugikan siapa pun.

Nah, kalau kita bisa memandang suatu kejadian dari sisi lain dan berusaha memahaminya, seharusnya perselisihan bisa dihindari. Dalam kasus di atas, sekarang saya berusaha untuk selalu memahami bahwa si sopir angkot sedang kejar target, dan karena kerjaannya memang begitu, percuma saya buang energi untuk kesal dan marah-marah sendiri karena saya sendiri yang rugi. Kemudian saya mengelus dada berusaha untuk tetap sabar dan mengontrol emosi :thumb1:

Survey Jangan Via Telepon

Tadi pagi ada yang telepon ke handphone saya, nomornya nomor Jakarta (021). Saya pikir ini kemungkinan ada yang nawarin kartu kredit lagi :grin3: Tapi saya tetap jawab karena siapa tahu ada perusahaan besar yang mau menawarkan pekerjaan bergaji tinggi pada saya :laughloud:

Begitu saya bilang “Halo” dia langsung menanyakan apakah bisa berbicara dengan Ibu X. Ibu X ini adalah saudara saya. Saya jadi bingung, koq cari saudara saya telepon ke saya ya? Ternyata, dia adalah dari perusahaan konsultan dari sebuah perusahaan asuransi besar yang sedang mengadakan survey kepuasan pelanggan. Kebetulan masalah asuransi saudara saya itu memang saya yang urus.

Karena salah nomor, saya bilang saja bahwa saya memang saudaranya. Lalu dia menanyakan banyak hal tentang kepuasan saudara saya akan perusahaan yang sedang diwakilinya itu. Karena saya tahu, jadi bisa saya jawab. Di akhir pembicaraan dia menanyakan nomor telepon saudara saya itu. Saya tidak berikan dengan alasan Ibu X itu orang sibuk, tidak bisa sembarangan orang meneleponnya, kalau dia merasa terganggu, bisa-bisa dia tidak mau lagi asuransi di perusahaan ini. :D

Jujur, saya pribadi merasa sangat terganggu dengan survey kepuasan konsumen melalui telepon semacam ini. Karena alasan inilah saya tidak berikan nomor telepon saudara saya itu, karena saya yakin dia pun pasti terganggu. Apalagi tadi saya sedang kerja, ditanya ini itu yang mungkin penting buat mereka, tapi sama sekali tidak penting buat saya. Dia pun di awal hanya mengatakan “Maaf mengganggu” tanpa menanyakan dulu apakah saya sedang sibuk atau tidak. Bukankah akan lebih baik kalau dia menanyakan apakah waktunya kurang tepat, apakah bisa menghubungi lagi nanti siang dsb?

Karena itu saya tidak setuju dengan survey via telepon. Lagipula, bukankah survey via telepon biayanya lebih mahal? Nelepon ke handphone pula, sampai 10 menit lebih pasti mahal deh :nono1: Menurut saya akan lebih baik bila survey semacam itu dilakukan via:

  1. Email
    Cari data klien yang memiliki email, lalu kirim email pada mereka dimana dalam email itu ada link menuju ke halaman website yang berisi surveynya. Biaya yang tadinya dipakai untuk menelepon bisa dipakai untuk memberikan cindera mata / souvenir kepada klien yang telah mengikuti survey dan beruntung. Saya senang mengikuti survey singkat yang ada cindera matanya.

    Kelemahannya, sampai sekarang memang banyak klien yang tidak mencantumkan alamat email mereka, entah karena belum punya atau enggan. Tapi kalau nomor telepon mereka pasti cantumkan karena memang sudah menajdi hal yang wajib dicantumkan. Kemudian masih banyak juga klien yang “gaptek” yang belum bisa buka email :daydream: Tapi kelemahan ini menurut saya bisa teratasi dalam waktu singkat dengan semakin pentingnya seseorang memiliki alamat email sekarang ini.

  2. SMS
    Survey singkat juga bisa via SMS. Ini tidak terlalu mengganggu, dan kalau mengganggu pun klien tinggal mengabaikan SMS itu. Beda halnya dengan telepon yang jelas-jelas lebih mengganggu dan agak sulit untuk klien menghentikan orang yang berbicara tanpa henti di ujung sana :tongue3: Biaya untuk SMS juga jauh lebih kecil dibandingkan dengan menelepon.
  3. Surat
    Perusahaan bisa mengirimkan survey via surat kepada klien dan meminta klien untuk mengirimkannya kembali via pos (tentu disertai perangko berlangganan supaya klien tidak perlu membeli perangko) atau via fax atau bahkan via email.

Memang dengan ketiga cara di atas, respons yang diharapkan mungkin kurang sesuai, berbeda dengan telepon yang langsung kena sasaran. Tapi sekali lagi, demi tidak mengganggu dan lebih menghargai klien, menurut saya lebih baik survey tidak dilakukan via telepon.

Anda setuju?

Semua Ada Waktunya

Dulu, saya sering merasa heran akan banyak hal yang tidak mau dilakukan oleh anak saya, Nicole. Tapi seiring berjalannya waktu, semakin dia besar, dia mau melakukannya.

Contoh, dulu dia tidak mau berenang, masuk kolam renang langsung menangis sekuat-kuatnya. Sementara saya lihat anak-anak lain seumur dia senang sekali berenang dan bermain air. Tapi sekarang, dia sangat senang berenang, malahan jadi sering ngajak berenang :D

Dulu dia lebih sering diam saja ketika diajak ngobrol oleh orang lain, padahal di rumah cerewetnya bukan main. Sekarang dia sudah mau diajak ngobrol oleh orang yang belum dia kenal sekalipun.

Dari sini kita dapat belajar bahwa segala sesuatu memang ada waktunya. Ada waktunya kita bisa punya rumah sendiri, usaha sendiri, mobil sendiri dan lainnya. Memang, apa yang dialami anak-anak sehingga mereka bisa melakukan sesuatu adalah hal yang natural, alami, yang pasti akan terjadi dengan sendirinya. Sedangkan kalau masalah lain, misalnya kesuksesan, kan tidak akan terjadi dengan sendirinya? Kapan dong waktunya tiba?

Nah, kalau Anda merasa sama seperti saya yang belum sukses di dunia internet marketing, berarti kita memang belum waktunya sukses di bidang ini. Mungkin kita kurang fokus, kurang pengalaman, dan masih harus lebih banyak belajar lagi.

Maka dari itu tetap semangat dan berusaha untuk mencapai tujuan Anda! Siapa tahu, tinggal selangkah lagi adalah waktunya Anda mencapai tujuan Anda. Kalau sekarang berhenti, maka langkah terakhir itu tidak dilakukan, akibatnya tujuan tidak akan tercapai.

Mencari Ide Blogging

Ketika blogwalking, saya sering menemukan blogger yang mengungkapkan kebuntuan ide dalam blogging. Tidak tahu apa yang harus ditulis. Anda pernah mengalaminya, atau bahkan sering? :D Saya juga pernah mengalaminya.

Tapi saya yakin, sebenarnya ide blogging itu tidak terbatas. Yang membatasinya hanyalah pikiran kita saja. Kalau Anda berpikir bahwa sedang tidak punya ide, maka ide itu tidak akan / sulit datang. Tapi kalau Anda berkeyakinan bahwa ide blogging itu tidak pernah habis, maka kepala Anda akan penuh dengan ide-ide blogging.

Kepada para blogger yang sedang tidak punya ide, biasanya saya menyarankan di kolom komentar untuk mencari ide berdasarkan pengalaman sehari-hari. Setiap hari kita pasti melakukan sesuatu, dan salah satunya pasti bisa dijadikan bahan untuk menulis di blog. Misalnya:

  • Seharian nonton tv di rumah atau pergi nonton film ke bioskop, bisa menulis tentang film yang ditonton.
  • Seharian online di rumah, bisa menulis tentang website baru yang dikunjungi.
  • Di kantor ada kejadian atau pembicaraan dengan teman kantor yang menarik, bisa ditulis di blog.
  • Di jalan Anda melihat papan reklame dengan slogan yang tidak biasa, bisa Anda bahas.
  • Jalan-jalan ke mall dan ketemu artis sinetron, bisa Anda tulis seperti apa artis itu di luar layar kaca.
  • Teman Anda beli handphone baru, dan Anda coba-coba, bisa Anda tulis review handphone itu.
  • dan lain-lain yang tidak terbatas!

Beberapa contoh postingan saya berdasarakan pengalaman sehari-hari bisa dilihat di sini.

Tentu, ide-ide dari kehidupan sehari-hari itu agak sulit diterapkan pada blog dengan niche khusus, seperti blog tentang kesehatan atau blog SEO. Tapi untuk blog-blog personal, umum atau gado-gado seperti blog ini, ide-ide itu bisa diterapkan.

Saran lagi, bawa catatan ke mana pun Anda pergi. Ide bisa datang kapan saja di mana saja. Kalau tidak dicatat kita sering lupa. Saya dulu sering berpikir keras untuk menemukan ide yang hilang, sempat kepikiran sebuah ide untuk diposting, tapi kemudian lupa. Karena itu sekarang saya selalu mencatat begitu menemukan ide. Kalau repot bawa catatan, bisa dicatat di handphone.

So, ide buat ngeblog itu tidak terbatas, ayo makin rajin blogging! :thumb5:

Apa Salahnya Jadi Referral?

Ketika Anda menemukan seseorang mempromosikan produk yang menarik perhatian Anda, dengan menggunakan link referral / affiliate, apa yang akan Anda lakukan? Misalnya link adalah http://www.namaprogramyangmenarik.com/?id=123. Apakah Anda akan:

  1. Langsung klik link itu lalu ikutan daftar, sehingga jadi referral orang itu?
  2. Atau Anda copy link-nya, hapus ?id=123 nya, lalu browsing ke http://www.namaprogramyangmenarik.com/ dan ikutan program itu? :)

Saya tahu banyak orang yang melakukan hal yang ke-2. Saya sendiri kalau tahu suatu program dari seseorang, dan ada link referralnya, dengan senang hati saya akan menjadi referral orang itu. Buat saya pribadi sih, sebagai tanda terima kasih karena sudah membuat saya tahu akan adanya program itu. Kalau tidak ada dia, mungkin saya tidak akan tahu keberadaan program itu, kan? :D

Apa salahnya sih jadi referral? Tidak ada salahnya kan memberikan (sedikit) keuntungan kepada orang yang telah memberikan informasi kepada Anda?

NB: Postingan ini sama sekali tidak mengajak Anda untuk menjadi referral saya, cuma berbagi opini saja koq :D

Page 1 of 3123